GODZILLA II: KING OF THE MONSTERS (2019) REVIEW: Pertarungan Besar dengan Narasi Tak Seimbang

Loading...

Setelah Godzilla (2014) dan Kong: Skull Island, Warner Bros memiliki keinginan untuk membentuk cinematic universe yang menggabungkan pengalaman menonton makhluk gigantis di layar lebar. Dimulai lagi lewat membuatkan sekuel untuk Godzilla agar memiliki jembatan cerita yang lebih besar dibandingkan dengan film sebelumnya. Godzilla dan Kong: Skull Island memiliki komentar yang beragam dalam keseluruhan presentasinya.

Godzilla II: King of the Monsters berubah haluan untuk tak lagi malu-malu mengeluarkan segala makhluk gigantis di filmnya. Sutradara pun beralih ke Michael Doughtery dengan trailer yang dikemas menarik. Beberapa nama besar pun ikut andil di dalam proyek film ini. Mulai dari Vera Farmiga, Sally Hawkins, Millie Bobby Brown, dan masih banyak lagi. Dalam trailernya pun, tentu menjadi sebuah mimpi yang terwujud jadi nyata bagi para penggemar Godzilla.

Godzilla II: King of the Monsters ini tak hanya memunculkan satu makhluk Titan. Ada kreatur dengan nama-nama besar di dalamnya yang dikeluarkan di trailer yang menjadi daya tarik calon penontonnya. Entah, hal ini bijak atau tidak sebagai ajang promosi dari film Godzilla II: King of the Monsterskarena bisa jadi apa yang disuguhkan di trailer sudah terlalu membocorkan terlalu banyak hal. Di sisi lain, hal itu akan memunculkan hype bagi yang tak dekat dengan para makhluk Titan.


Problematika instalmen Godzilla sebelumnya adalah ketika filmnya sendiri tak bisa memperlihatkan pertarungan besar dari makhluk Titan ini. Segala tensi yang terjalin di film Godzilla pertama berada di segala dialog dan konflik yang dimainkan oleh karakter-karakter manusianya. Godzilla II: King of the Monsters tentu terlihat ingin memperbaiki hal itu dan memuaskan para penggemar Godzilla yang ingin melihat pertarungan besar di layar yang lebar.

Tentu, Michael Doughtery berhasil untuk menyajikan segala pertarungan besar yang tak malu-malu memporak porandakan tempat manusia tinggal ini. Semua penggemar atau penonton awam pun akan bersuka cita melihat makhluk-makhluk Titan ini bertarung habis-habisan dilengkapi dengan ledakan-ledakan masif. Tetapi, problematika hadir dalam narasinya saat mengantarkan konfliknya menuju ledakan besar para Titans saling bertarung satu sama lain.


Narasi klise dan karakterisasi yang tak kuat sebenarnya bukan problem utama apabila sang sutradara tahu bagaimana cara mengemas itu semua. Narasi di mulai di sebuah keluarga kecil yang tak sempurna. Emma Russell (Vera Farmiga), seorang ibu yang hidup sendiri dengan satu anaknya, Madison (Millie Bobby Brown). Dia adalah seorang ahli paleobiologi yang percaya bahwa Titans bisa menyelamatkan bumi saat setelah bencana besar menyerang.

Ketika Emma sedang mengembangkan ORCA, dirinya diserang oleh sisi lain yang memiliki tujuan lain dengan alat tersebut. Di sinilah, Mark (Kyle Chandler), mantan suami Emma sekaligus mantan rekan kerjanya diutus untuk mencari Emma dan Madison yang ditahan oleh musuhnya. Di tengah jalan banyak konflik yang terjadi, sehingga makhluk-makhluk Titans yang berbahaya ini bangun dan semakin memporak porandakan bumi yang sudah berantakan.

 
Alih-alih film ini fokus menjadi sebuah sajian style over substance, film ini menyibukkan diri untuk bercerita. Plotnya ingin membuat karakterisasinya tak terkesan dangkal dan konfliknya bisa menjadi jembatan untuk pertarungan besarnya. Tetapi, itikad baik itu malah menjadi bumerang bagi filmnya. Sehingga, 132 menit di dalam Godzilla II: King of the Monsters terasa begitu panjang dan melelahkan untuk diikuti. Bahkan berharap di sepanjang film hanya berisi dengan pertarungan Godzilla dengan para Titans yang lain.

Setiap konflik dari karakter manusia muncul, Godzilla II: King of the Monsters berada di titik paling rendah dalam filmnya. Dengan karakternya yang begitu banyak, tak ada satupun dari karakternya yang bisa memunculkan simpati penontonnya. Hal ini tentu akan berpengaruh dengan lancarnya mencerna setiap konflik yang ada di dalam Godzilla II: King of the Monsters. Jika saja ada bagian yang dalam konfliknya yang lebih disimplifikasi, sepertinya akan lebih bijaksana.


Fokuskan saja kisahnya ke beberapa karakter utama tanpa perlu menambah menambahi karakter manusia dengan itikad jahat. Jika saja lebih fokus untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi oleh bumi dan Titans dengan sedikit sentuhan nilai-nilai keluarga di dalamnya, mungkin saja itu akan bekerja lebih baik. Sehingga, konklusi yang ada bukan sekedar usaha karakter manusianya memperbaiki kehidupan bumi tetapi juga memperbaiki kehidupan dengan sesamanya.

Tentu yang tersisa dari Godzilla II: King of the Monsters ini hanyalah pertarungan antara para Titans yang memang luar biasa megah. Diiringi dengan originaltheme song-nya, pertarungan Godzilla, Mothra, King Ghidorah, dan Rodan tentu sangat mudah merebut hati penggemarnya karena hal-hal trivial ini. Tetapi, bagi penonton awam yang tak dekat, hal ini belum tentu bekerja dengan baik kecuali sebagai spektakel visual yang perlu ditonton di layar besar. Tetapi, pengalamannya akan hilang begitu saja setelah film ini selesai.


Ini tentu menjadi perdebatan bagi para penggemar yang berusaha membela ketika monster mayhem di Godzilla II: King of the Monsters sudah dianggap lebih dari cukup. Bukankah akan lebih maksimal lagi pengalaman menontonnya, ketika karakter manusia sebagai pondasi penuturan ceritanya bisa berjalan seimbang dengan parade para Titansnya. Sehingga, film ini tak hanya menjadi sesuatu yang sakral bagi para penggemarnya, tetapi juga menumbuhkan penonton-penonton baru yang menunggu film-film Godzilla lainnya akan dibuat. Apalagi, Warner Bros memiliki rencana untuk memperbesar monsters universe ini.

Loading...

0 comments

Loading...